Ini Kisah Tipe Pengembara, Perempuan yang Melihat Ketidakpastian sebagai Tantangan dalam Meraih Mimpi

Ini Kisah Tipe Pengembara, Perempuan yang Melihat Ketidakpastian sebagai Tantangan dalam Meraih Mimpi

PARAPUAN bersama Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas melakukan survei online mengenai kendali atas mimpi perempuan Indonesia. Survei tersebut dilaksanakan pada bulan Januari hingga Maret 2021. Melalui survei tersebut, PARAPUAN menemukan bahwa dalam kendali atas mimpinya, ada empat tipe perempuan yaitu Pengembara, Pengelola, Pengabdi, dan Pengampu.

Kali ini, kita akan mengenal lebih dekat tipe Pengembara, yangmemiliki orientasi mimpi untuk diri sendiri dan cenderung mengedepankan perasaan dalam mengambil keputusan terkait kendali mimpinya. Tujuan tipe Pengembara dalam menggapai mimpi adalah untuk memuaskan diri sendiri, sebagaikesenangan pribadi, atau sebagai bentuk pembuktian dalam pencapaian untukdirinya sendiri. Mereka cenderung mengedepankan perasaan yang mengakibatkanmereka sering kali tidak terlalu keras dalam menggenggam kendali atas mimpinya.

Perempuan dengan tipe Pengembara kerap tidak tahu prioritas dalam pengambilan keputusan atas mimpinya dan membuat mereka kehilangan arah,bingung, malas, bahkan demotivasi ketika berhadapan dengan hambatan. Namun, mereka tahu persis apa yang mereka inginkan dan rasakan dalam perjalanan memegang kendali atas mimpinya. Yuk kenalan dengan salah satu perempuan tipe Pengembara, Niskala Hapsari, seorang Kawan Puan yang baru saja menyelesaikan studi jenjang S1 dan sedang menggapai mimpi di industri film dan seni Indonesia.

Berikut kisah perjuangan Niskala Hapsari, seperti yang mereka kisahkan pada PARAPUAN. Ketika berbicara soal mimpi, saya selalu merasa kalau mimpi saya tidak realistis, apa lagi di Indonesia. Saya hobi menonton film sedari dulu dan sering kali memikirkan apa yang terjadi di balik layar.

Banyak tawaran untuk memilih universitas bergengsi saat saya baru lulus SMA, namun saya mengikuti apa yang hati saya inginkan yaitu sekolah film. Selepas saya lulus dari sekolah film, saya merasakehilangan arah karena tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah lulus. Di umur 23 tahun ini, saya merasa kebingungan karena merasa sudah dewasa dan harus memiliki tanggung jawab.

Namun, di saat yang bersamaan, saya merasa diri saya masih sangat muda dan bebas melakukan apa yang saya inginkan. Pandemi Covid 19 yang datang tepat bersamaan dengan kelulusan, membuat saya menunda sejenak pencarian kerja. Agar tetap produktif, saya mencoba untuk secara aktif terlibat dalam sebuah komunitas seni di Jakarta, hal tersebut menuntut saya untuk produktif dalam mencoba hal yang baru.

Mencoba hal hal baru yang tidak pasti membuat saya terkejut sendiri dengan kemampuan saya. Tak disangka, ternyata saya memiliki bakat lain dan bisa berkembang dari hal yang terasa asing bagi saya selama ini. Saya mencoba berbagai macam medium seni dan ada beberapa yang saya rasa gagal, walaupun awalnya saya merasa bahwa kegagalan berarti berhenti, tapi saya selalu percaya bahwa ada hal baru lainnya yang bisa saya coba.

Namun, ada titik di mana saya merasa saya tidak mampu untuk merencanakan apa yang saya akan lakukan jika saya gagal atau bosan di satu ranah. Inner child di dalam diri saya yang selalu meminta untuk berpetualang mencari hal hal yang baru lagi membuat saya tidak punya tujuan jangka panjang. Agar lebih tekun dan fokus, saya memutuskan untuk bekerja di studio iklan.Selain itu, saya juga merasa rindu dengan pekerjaan balik layar untuk sebuah film, iklan, atau bentuk video lainnya.

Ternyata, saya menemukan lebih banyak ketidakpastian lainnya di tempat kerja. Hal baru selalu muncul di hadapan saya setiap hari. Kini sayamerasa bahwa ketidakpastian adalah "sahabat" baru saya yang tidak bisa saya tinggalkan. Saya menemukan bahwa ketidakpastian yang saya hadapi dan yang saya pilih untuk jalani merupakan sarana untuk saya terus bertumbuh dan beradaptasi.

Saya sadar bahwa saya tidak bisa tekun dalam satu hal dan berkomitmen dalam waktu yang lama untuk melakukannya. Tapi di lain sisi saya juga sadar bahwa mimpi itu tidak terbatas dan sangat dinamis, saya bisa menemukan mimpi di mana saja dan mencobanya. Walaupun tidak pasti, namun hal hal baru yang saya coba dapat membentuk saya untuk lebih kuat, bertalenta, dan berkembang.

Pesan saya untuk perempuan di luar sana, janganlah takut untuk mencoba hal yang baru dalam menggapai mimpimu. "Saat kita masuk ke ruangan yang baru dan tidak familiar memang terasa 'gelap' dan tidak ada 'cahaya' yang membimbing kita. Namun, kita selalu bisa menjadi 'cahaya' untuk diri kita sendiri asal kita percaya." (*) Artikel ini merupakan bagian dari

KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Parapuan